Prolog

Sudah hampir seperempat abad saya hidup di dunia, lebih kurangnya 2 tahun lagi usia saya genap 25 tahun. Tentu saja di usia itu perempuan-perempuan desa seperti saya paling tidak sudah mapan dalam berkarir, sudah berumah tangga, atau sudah menimang anak. Namun bagi saya yg baru saja menyelesaikan kuliah di usia 22 tahun, 3 tahun lagi terlihat seperti waktu yang singkat untuk mengembangkan diri jauh melampaui batas-batas kemampuan yang sudah saya buat sebelumnya.

Saya merupakan alumni salah satu perguruan tinggi di Universitas Jember, program studi Sosiologi. Pada saat saya kuliah, menulis adalah kewajiban karena selaku mahasiswi Sosiologi kami dituntut menulis berbagai macam laporan dari penelitian yg sudah kami lakukan. Itu yang membuat tubuh kami berdisiplin untuk mengasah kemampuan kami menulis. Selain itu sebagai sosok yang melankolis, saya pribadi lebih menyukai menulis sebagai cara menyampaikan pendapat. Saya masih ingat bagaimana saya dulu menulis surat kepada ibu hanya untuk memberitahunya kalau saya tidak mau sekolah di sekolah yg dipilihkan olehnya. Padahal kami tinggal serumah dan tidak ada susahnya jika menyampaikan pendapat langsung dengan berbicara kepada ibu. Tapi karena takut, menulis adalah cara yg saya lakukan untuk menyampaikan pendapat.

Namun akhir-akhir ini saya takut sekali menulis. Takut dibilang terlalu subjektif, takut dibilang tulisannya jelek, takut dibilang berantakan tulisannya, dan ketakutan-ketakutan lain yang membuat saya tidak lagi bisa menulis dengan tenang. Padahal apa yang tidak bisa dibicarakan lewat perkataan harus saya keluarkan lewat tulisan. Maka dari itu, mulai saat ini saya putuskan dan niatkan untuk memulai kembali sesuatu yg sudah lama saya tinggalkan. Saya mau menulis apapun yang membuat saya senang. Persetan dengan perkataan orang-orang yang membuat saya takut.

Saya mau berpelukan lagi dengan tulisan setelah sekian lama berjarak.

Komentar