BERBAIK HATI

Hari ini hujan. Beberapa hari terkahir, tepatnya seminggu terkahir Banyuwangi mandi hujan. Sedikit sekali kadar panas disiang hari, tentu saja hal itu membuat ibu-ibu mecucu ndak ketulungan karena stok baju kotor kian banyak sedang baju basah yg dijemur membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk kering dan bisa masuk ke lemari. Bapak-bapak juga ndak kalah mecucunya, mereka risau kalau-kalau sampai harus menanggung rugi jika mereka gagal panen. Maklum, turunnya hujan bagi petani adalah petaka karena selain tumbuhan tidak dapat berfotosintesis dengan baik, jamur, wereng serta penyakit padi lainnya tumbuh subur jika hujan setiap hari turun seperti saat ini.

Begitupun denganku, nyatanya hujan memang mampu menyihir perasaan jadi sendu. Mungkin karena warna langit berubah jadi abu-abu serta suhu yang jauh lebih dingin ketimbang pada saat panas, membuat hujan jadi waktu kontemplasi bagi mahluk semesta. Jadi waktu untuk memperlambat ritme.

Hujan hari ini membawa saya pada kontemplasi serta memori dua bulan yang sudah saya lewati setelah saya dinyatakan sah sebagai wisudawan. Selayaknya paska sarjana lainnya, saya sibuk kesana kemari mencari kerja. Jakarta-Surabaya-Jember-Bali merupakan kota-kota yang sudah saya singgahi untuk beradu perutungan. Namun, sampai tulisan ini saya buatpun belum ada satu pekerjaan yg mampu saya cicipi. Alhasil, saya kembali ngelimbruk di rumah. Kembali bersama bapak ibuk, tetangga yg terus menanyakan sudah kerja apa belum serta keseharian yang itu-itu saja.

Ada satu pertanyaan setiap kali saya berada di bus, kereta atau motor yang saya naiki untuk menuju kota-kota tersebut. Setiap kali bergesekan bahu dengan orang sebelah saya di bis, atau setiap melihat atap rumah yg keliatan dari jendela kereta atau kemacetan yg harus saya hadapi setiap saya mengendarai motor. Apa yang orang-orang ini cari? Pertanyaan itu muncul dibarengi air mata yang selalu keluar tiba-tiba.

Saya pernah menanyakan pertanyaan tersebut kepada kakak saya, dia menjawab mereka semua mencari penghidupan. Manusia berduyun-duyun kesana kemari mencari makan. Bersamaan dengan jawaban itu saya langsung berdoa. Ya Tuhan, terus berbaik hatilah kepada manusia. Selalu ingatkan mereka semua, bahwa mereka terlahir bukan untuk pasrah.

Komentar