GENDUT DAN DENDAM

Kurang lebih satu bulan yang lalu saya dikecewakan oleh salah satu perusahaan di Bali yang sedang  mengadakan rekruitment kerja. Sejak kejadian itu saya membulatkan niat untuk menghentikan petualangan sebagai pencari kerja di luar kota. Selain karena biaya yang dikeluarkan lebih banyak untuk wira-wiri keluar kota, tenaga yang dikeluarkan hanya untuk mengikuti interview di luar kota juga relatif banyak belum lagi jika kota yang dituju macam Bali yang tidak memliki jalur kereta api. Sehingga mau tidak mau para pelancong harus naik bus atau naik motor untuk sampai di kota tersebut. 

Kekecewaan itu sampai sekarang masih membekas di hati dan pikiran saya, sejak itu saya menarik kesimpulan bahwa "cantik adalah segalanya ketimbang prestasi dan pribadi". Bagaimana tidak, setelah dimentahkan sedemikian rupa tentu saja saya sedih bukan kepalang.

Dari kecil saya sudah bertubuh gendut, maklum ibu saya memiliki toko kelontong di rumah. Jadi ciki-ciki yang dijual ibu yang merawani tentu saja saya. Dari konteks itulah kegendutan saya dimulai. Dari kecil ejekan "gembrot..gembrot..gembrot" sudah seperti makanan pokok bagi saya. Tidak pernah sakit hati, dendam atau wadul ke bapak atau ibu. Kalaupun saya marah pada adik kelas atau kakak kelas yang mengolok, saya rasa tidak ada gunanya karena memang hal tersebut kenyataan yang tidak bisa dielakkan. 

Hanya ibu dan bapak saya yang sering geram dengan ejekan itu dan menyuruh saya untuk diet. Dari kecil ibu saya selalu ngatur jatah makan saya, kalau anak-anak kecil umumnya biasa makan seenaknya saya sudah dijatah sedemikian rupa, sampai sekarang.

Apalagi zaman-zaman SMP, SMA sampai KULIAH. Ibu dan bapak selalu rewel "diet, awakke dijogo awakmu iku lagi dodolan". Dulu saya tidak pernah ngeh dengan perkataan itu, bahkan ndak mau nalar. Yah, maklum zaman kuliah adalah zaman idealis-idealisnya. "Cantik nomer sekian yang penting integritas, prestasi dan kepribadian diri" tapi di dunia nyata itu semua zonk apalagi dunia kerja. 

Seperti pengalaman di Bali lalu dimana saya harus bertekuk lutut menyerah pada sistem rekruitment kerja yang tidak masuk akal karena pertimbangan berat badan dan penampilan. Perusahaan tersebut mencari dua orang karyawan baru, saya dan teman seangkatan SMA melamar di posisi yang sama. Singkat cerita kami berdua lolos tahapan interview akhir dan dijanjikan ditelpon 2 hari kemudian setelah hari interview tersebut. Bagi saya yang menunggu telpon HRD layaknya menunggu keajaiban dari Tuhan tiap detiknya tidak saya lewatkan sedikitpun. Handphone saya yang biasanya selalu dalam mode senyap, hari itu saya setel nada dering sampei level 5. 

Namun hari itu saya lewatkan tanpa ada telpon dari pihak manapun. Karena nyatanya saya dihempas dan  perusahaan tersebut lebih memilih teman saya. Awalnya saya tidak beripikiran apapun terhadap hasil tersebut, yasudah bukan rezeki pikir saya waktu itu. Namun alangkah terkejutnya saya setelah diterimanya teman saya tersebut, perusahaan kembali mencari orang untuk mengisi posisi itu. Gimana saya ndak misuh-misuh. 

Prestasi, kepribadian, dan integritas yang saya tunjukkan kalah dengan rai cantik dan body aduhai. Sejak saat isu saya mendendam dan mengutuk perusahaan, dan sejak saat itu saya mrmutuskan untuk diet agar bisa balas dendam jika saya nanti masuk di salah satu perusahaan besar. 



Komentar